ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING SISTEM INFORMASI RS BANDUNG
Berdasarkan hasil observasi dan
wawancara diperoleh hasil bahwa RSU Bandung yang sudah berdiri dari tahun 2009. belum ada
penerapan sistem informasi yang terintegrasi, sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit
baik secara offline maupun online. Oleh sebab itu akses informasi menjadi belum efektif dan efisien.
Untuk memenuhi kebutuhan informasi
tersebut, maka perlu dirancang suatu sistem informasi yang dinamis,
cepat, efisien, dan terintegrasi. Untuk merancang sitem infomasi ini diperlukan
suatu framework untuk pemodelan
arsitektur enterprise. Pemodelan ini akan menghasilkan dokumen berupa blueprint yang dapat dijadikan sebagai
acuan dalam perancangan,
pembangunan dan pengembangan sistem informasi di RSU Bandung.
Arsitektur enterprise di RSU Bandung memiliki aktivitas pendaftaran, poli (rawat jalan), rawat inap, apotek, kasir,
manajemen keuangan, dan manajemen kepegawaian. Pendefinisian area bisnis RSU Bandung digambarkan pada Gambar dibawah ini dengan menggunakan value
chain Michael porter.
Berdasarkan Gambar 4.1 diatas, maka deskripsi dari fungsi bisnis RSU Bandung adalah sebagai
berikut:
a. Aktivitas utama
1. Pendaftaran pasien
Bagian pendaftaran yang bertugas menerima pendaftaran pasien baru maupun pasien lama.
2. Poli (rawat jalan)
Bagian proses bisnis oleh dokter yang bersangkutan untuk menangani pasien serta membuat rekap rekam medis pasien.
3. Rawat ini
Bagian proses bisnis yang mendata dan menangani pasien rawat inap.
4. Apotek
Bagian proses bisnis yang menerima resep dari poli dan bertugas untuk mengolah data apotek yang kemudian diteruskan ke kasir untuk dilakukan tagihan.
5. Kasir
Proses bisnis yang mengelola seluruh tagihan pasien baik tagihan rawat jalan maupun rawat inap.
b. Aktivitas pendukung.
1. Manajemen keuangan.
Proses bisnis pengelolaan keuangan rumah sakit.
2. Manajemen kepegawaian.
Proses bisnis yang meliputi tenaga staf di rumah sakit.
Konfirmasi Pemerintah dan Dukungan Framework
Komitmen manajemen merupakan hal yang sangat diperlukan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengembangan sistem informasi di RSU Bandung. Secara kongkrit komitmen manajemen untuk mengembangkan teknologi informasi di RSU Bandung sudah dimulai sejak tahun 2009 yaitu sejak disahkannya klinik Bandung menjadi RSU Bandung. Saat pertama kali ada, teknologi informasi dikembangkan hanya untuk mendukung proses data pada apotek dan kasir. Namun dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, maka teknologi informasi diharapkan dapat mendukung semua aspek bisnis di RSU Bandung termasuk pengembangan sistem informasi dan infrastuktur teknologi. Komitmen ini dibutuhkan karena akan sangat berpengaruh pada kebutuhan personil, anggaran, dan waktu.
Menentukan Tim Arsitektur dan Organisasi
Dalam upaya pengembangan arsitektur enterprise, maka dibutuhkan suatu suatu dukungan organisasi yang akan dijadikan sebagai langkah awal pengembangan. Manajer rumah sakit selaku pemegang jabatan tertinggi telah mengeluarkan perintah kepada bagian departemen teknologi informasi untuk melaksanakan pengembangan arsitektur enterprise secara menyeluruh. Pengembangan tersebut meliputi pengembangan sistem informasi rumah sakit dan pengembangan infrastruktur jaringan di RSU Bandung.
Menentukan Framework Arsitektur
Framework arsitektur yang akan digunakan adalah Architectural Development Method (ADM) yang bertujuan untuk menentukan bagaimana sebuah arsitektur enterprise dibangun, diterapkan, dipelihara, dan dikembangkan. ADM memiliki delapan tahapan dalam proses implementasinya. Delapan tahapan tersebut adalah:
1. Phase A. Architecture Vision
2. Phase B. Business Architecture
3. Phase C. Information System Architecture
4. Phase D. Technology Architecture
5. Phase E. Opportunities and Solution
6. Phase F. Migration Planning
7. Phase G. Implementation Governance
8. Phase H. Architecture Change Management
Delapan tahapan tersebut harus didasari dan dilaksanakan berdasarkan kajian strategi bisnis yang didefiniskan dan diuraikan pada lingkaran TOGAF yaitu requirement management.
Melaksanakan Tools Arsitektur
Tools atau alat yang digunakan dalam membangun arsitektur enterprise yang efektif adalah relevansi antara permasalahan aktual dengan organisasi ditingkat strategis maupun operasional. Setiap tahapan dalam pembangunan arsitektur enterprise mengacu pada konsep solusi atas permasalahan organisasi yaitu dengan menggunakan requirement management pada lingkaran TOGAF ADM. Inti dari requirement management adalah fitur-fitur fungsional dan non fungsional. Kedua fungsi tersebut harus ada untuk mewujudkan konsep solusi atas permasalahan organisasi yang ada.
Prinsip-prinsip Arsitektur Enterprise
Prinsip-prinsip yang dapat digunakan pada tahap awal pembangunan arsitektur enterprise adalah prinsip yang memiliki sifat umum namun memiliki hubungan dengan enterprise yang akan dikembangkan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penyeragaman penggunaan teknologi informasi.
2. Penerapan opensource software.
3. Modularisasi komponen-komponen sistem.
4. Penggunaan sistem penggunaan sumber data bersama (sharing).
Requirement Management
Tujuan dari tahapan ini adalah menentukan suatu kebutuhan proses untuk identifikasi arsitektur enterprise, disimpan, dan dimasukkan kedalam dan keluar dari tahapan ADM yang sesuai dengan studi kasus penelitian. tahapan ini termasuk tahapan penting karena terkait dengan rencana strategis dan kebijakan manajemen.
Pengembangan sistem informasi RSU Bandung harus sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai suatu tujuan organisasi. Skenario bisnis menjadi sumber daya yang harus dikembangkan pada tahap ini. Skenario tersebut harus mencakup core business, business process, dan organization issue.
Core Business
Core business atau bisnis utama di RSU Bandung adalah pelayanan pengobatan terhadap ibu dan anak dan penyediaan obat-obatan. Namun dalam pelaksanaannya juga memerlukan hal-hal sebagai berikut:
1. Sistem informasi yang dapat mendukung kebutuhan pasien, administrasi, rekam medis, apotek, dan keuangan.
2. Teknologi informasi yang mendukung semua kegiatan rumah sakit.
3. Membuat Standard Operating Procedure (SOP) yang dapat menunjang pencapain pelayanan maksimal dalam segala bidang organisasi bisnis.
Business Process
Proses bisnis RSU Bandung secara rinci telah dijelaskan sebelumnya yaitu pada value chain Gambar 4.1.
Organization Issue
Berdasarkan hasil observasi dan analisa yang dilakukan terhadap
proses bisnis di RSU Bandung, maka diperoleh gambaran permasalahan yang dialami oleh rumah sakit. Permasalahan tersebut dapat
dijelaskan pada Tabel 4.1 dibawah ini. Tabel 4.1 Permasalahan RSU Bandung
|
No.
|
Aktivitas bisnis
|
Permasalahan
|
|
1.
|
Pendaftaran
|
1. Pendaftaran pasien
butuh waktu lama
|
|
2. Belum ada pemanggilan dan viewer
antrian.
|
|
3. Data pasien
masih
harus
diantarakan oleh
perawat ke poli.
|
|
2.
|
Poli (rawat
jalan)
|
1. Proses
penyampaian resep masih menggunakan kertas dan diantarkan oleh
perawat ke apotek.
2.
Rekam medis belum
terdata ke database.
3. Penghitungan jasa
dokter belum efisien.
|
|
3.
|
Rawat inap
|
Menumpuknya data yang akan dilakukan
penagihan
oleh kasir.
|
|
4.
|
Apotek
|
1. Pendataan keluar masuk obat sulit untuk
dilakukan.
2.
Jumlah aset obat sulit untuk
diketahui
|
|
5.
|
Kasir
|
1. Proses input tagihan pasien membutuhkan waktu yang lama.
2. Proses pelaporan harian dan perbulan
membutuhkan waktu yang lama.
|
|
6.
|
Manajemen
Keuangan
|
Administrasi dan pelaporan harian dan bulanan
tidak efisien.
|
|
7.
|
Manajemen
Kepegawaian
|
Pendataan jadwal dokter
dan tenaga medis
belum dapat diketahui.
|
Solusi Bisnis
Terhadap Permasalahan Organisasi
|
No.
|
Permasalahan
|
Sasaran Perbaikan
|
|
1.
|
Pendaftaran pasien butuh
waktu
lama.
|
Memanfaatkan sistem informasi dan
database pasien.
|
|
2.
|
Belum ada pemanggilan dan
viewer antrian.
|
Penyediaan
sistem informasi antrian.
|
|
3.
|
Data pasien masih harus
diantarakan oleh perawat ke poli.
|
Penggunaan sistem paperless dari
pendaftaran ke tiap-tiap poli.
|
|
4.
|
Proses penyampaian resep masih menggunakan kertas dan diantarkan oleh
perawat ke
apotek.
|
Penggunaan sistem
paperless dari poli ke apotek.
|
|
5.
|
Rekam medis
belum terdata ke
database.
|
Pemanfaatan sistem informasi pendataan rekam medis.
|
|
6.
|
Penghitungan jasa dokter
belum
efisien.
|
Penghitungan jasa dokter yang
terhubung
ke sistem pendaftaran.
|
|
7.
|
Pendataan keluar masuk obat sulit
untuk dilakukan.
|
Pemanfaatan sistem apotek
dengan
maksimal.
|
|
8.
|
Jumlah aset obat sulit untuk diketahui.
|
Penghitungan jumlah
aset obat dapat
diketahui melalui sistem
apotek.
|
|
9.
|
Menumpuknya data
yang akan dilakukan penagihan oleh kasir.
|
Integration data antar bagian yang
akan dilakukan penagihan.
|