Kamis, 20 Januari 2022

Analisa dan Perancangan Lini Bisnis

 ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING SISTEM INFORMASI RS BANDUNG


Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diperoleh hasil bahwa RSU Bandung yang sudah berdiri dari tahun 2009. belum ada penerapan sistem informasi yang terintegrasi, sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit baik secara offline maupun online. Oleh sebab itu akses informasi menjadi belum efektif dan efisien. Untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut, maka perlu dirancang suatu sistem informasi yang dinamis, cepat, efisien, dan terintegrasi. Untuk merancang sitem infomasi ini diperlukan suatu framework untuk pemodelan arsitektur enterprise. Pemodelan ini akan menghasilkan dokumen berupa blueprint yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam perancangan, pembangunan dan pengembangan sistem informasi di RSU Bandung.

Arsitektur enterprise di RSU Bandung memiliki aktivitas pendaftaran, poli (rawat jalan), rawat inap, apotek, kasir, manajemen keuangan, dan manajemen kepegawaian. Pendefinisian area bisnis RSU Bandung digambarkan pada Gambar dibawah ini dengan menggunakan value chain Michael porter.



        Berdasarkan Gambar 4.1 diatas, maka deskripsi dari fungsi bisnis RSU Bandung adalah sebagai
berikut:
a.  Aktivitas utama

1. Pendaftaran pasien
    Bagian pendaftaran yang bertugas menerima pendaftaran pasien baru maupun pasien                            lama.

2. Poli (rawat jalan)
    Bagian proses bisnis oleh dokter yang bersangkutan untuk menangani pasien serta                                     membuat  rekap rekam medis pasien.

3. Rawat ini
    Bagian proses bisnis yang mendata dan menangani pasien rawat inap.

4.  Apotek
     Bagian proses bisnis yang menerima resep dari poli dan bertugas untuk mengolah data                            apotek yang kemudian diteruskan ke kasir untuk dilakukan tagihan.

5. Kasir
    Proses bisnis yang mengelola seluruh tagihan pasien baik tagihan rawat jalan maupun                             rawat inap.

b.  Aktivitas pendukung.

1. Manajemen keuangan.
    Proses bisnis pengelolaan keuangan rumah sakit.

2. Manajemen kepegawaian.
    Proses bisnis yang meliputi tenaga staf di rumah sakit.


    Konfirmasi Pemerintah dan Dukungan Framework

   Komitmen manajemen merupakan hal yang sangat diperlukan dalam proses pengambilan      keputusan yang berkaitan dengan pengembangan sistem informasi di RSU Bandung. Secara kongkrit komitmen manajemen untuk mengembangkan teknologi informasi di RSU Bandung sudah dimulai sejak tahun 2009 yaitu sejak disahkannya klinik Bandung menjadi RSU Bandung. Saat pertama kali ada, teknologi informasi dikembangkan hanya untuk mendukung proses data pada apotek dan kasir. Namun dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, maka teknologi informasi diharapkan dapat mendukung semua aspek bisnis di RSU Bandung termasuk pengembangan sistem informasi dan infrastuktur teknologi. Komitmen ini dibutuhkan karena akan sangat berpengaruh pada kebutuhan personil, anggaran, dan waktu.

 

Menentukan Tim Arsitektur dan Organisasi

Dalam upaya pengembangan arsitektur enterprise, maka dibutuhkan suatu suatu dukungan organisasi yang akan dijadikan sebagai langkah awal pengembangan. Manajer rumah sakit selaku pemegang jabatan tertinggi telah mengeluarkan perintah kepada bagian departemen teknologi informasi untuk melaksanakan pengembangan arsitektur enterprise secara menyeluruh. Pengembangan tersebut meliputi pengembangan sistem informasi rumah sakit dan pengembangan infrastruktur jaringan di RSU Bandung.

 

Menentukan Framework Arsitektur

Framework arsitektur yang akan digunakan adalah Architectural Development Method (ADM) yang bertujuan untuk menentukan bagaimana sebuah arsitektur enterprise dibangun, diterapkan, dipelihara, dan dikembangkan. ADM memiliki delapan tahapan dalam proses implementasinya. Delapan tahapan tersebut adalah:

1.      Phase A. Architecture Vision

2.      Phase B. Business Architecture

3.      Phase C. Information System Architecture

4.      Phase D. Technology Architecture

5.      Phase E. Opportunities and Solution

6.      Phase F. Migration Planning

7.      Phase G. Implementation Governance

8.      Phase H. Architecture Change Management

Delapan tahapan tersebut harus didasari dan dilaksanakan berdasarkan kajian strategi bisnis yang didefiniskan dan diuraikan pada lingkaran TOGAF yaitu requirement management.

 
Melaksanakan Tools Arsitektur

Tools atau alat yang digunakan dalam membangun arsitektur enterprise yang efektif adalah relevansi antara permasalahan aktual dengan organisasi ditingkat strategis maupun operasional. Setiap tahapan dalam pembangunan arsitektur enterprise mengacu pada konsep solusi atas permasalahan organisasi yaitu dengan menggunakan requirement management pada lingkaran TOGAF ADM. Inti dari requirement management adalah fitur-fitur fungsional dan non fungsional. Kedua fungsi tersebut harus ada untuk mewujudkan konsep solusi atas permasalahan organisasi yang ada.

 
Prinsip-prinsip Arsitektur Enterprise

Prinsip-prinsip yang dapat digunakan pada tahap awal pembangunan arsitektur enterprise adalah prinsip yang memiliki sifat umum namun memiliki hubungan dengan enterprise yang akan dikembangkan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Penyeragaman penggunaan teknologi informasi.

2.      Penerapan opensource software.

3.      Modularisasi komponen-komponen sistem.

4.      Penggunaan sistem penggunaan sumber data bersama (sharing).


Requirement Management

Tujuan dari tahapan ini adalah menentukan suatu kebutuhan proses untuk identifikasi arsitektur enterprise, disimpan, dan dimasukkan kedalam dan keluar dari tahapan ADM yang sesuai dengan studi kasus penelitian. tahapan ini termasuk tahapan penting karena terkait dengan rencana strategis dan kebijakan manajemen.

Pengembangan sistem informasi RSU Bandung harus sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai suatu tujuan organisasi. Skenario bisnis menjadi sumber daya yang harus dikembangkan pada tahap ini. Skenario tersebut harus mencakup core business, business process, dan organization issue.

Core Business

Core business atau bisnis utama di RSU Bandung adalah pelayanan pengobatan terhadap ibu dan anak dan penyediaan obat-obatan. Namun dalam pelaksanaannya juga memerlukan hal-hal sebagai berikut:

1. Sistem informasi yang dapat mendukung kebutuhan pasien, administrasi, rekam medis, apotek, dan keuangan.

2. Teknologi informasi yang mendukung semua kegiatan rumah sakit.

3. Membuat Standard Operating Procedure (SOP) yang dapat menunjang pencapain pelayanan maksimal dalam segala bidang organisasi bisnis.

 
Business Process

Proses bisnis RSU Bandung secara rinci telah dijelaskan sebelumnya yaitu pada value chain Gambar 4.1.


Organization Issue

Berdasarkan hasil observasi dan analisa yang dilakukan terhadap proses bisnis di RSU Bandung, maka diperoleh gambaran permasalahan yang dialami oleh rumah sakit. Permasalahan tersebut dapat dijelaskan pada Tabel 4.1 dibawah ini. Tabel 4.1 Permasalahan RSU Bandung


No.

Aktivitas bisnis

Permasalahan

1.

Pendaftaran

1. Pendaftaran pasien butuh waktu lama

2. Belum ada pemanggilan dan viewer antrian.

3. Data pasien   masih   harus   diantarakan   oleh

perawat ke poli.

 

 

2.

 

 

Poli (rawat jalan)

1.      Proses penyampaian resep masih menggunakan kertas dan diantarkan oleh perawat ke apotek.

2.      Rekam medis belum terdata ke database.

3.      Penghitungan jasa dokter belum efisien.

3.

Rawat inap

Menumpuknya    data    yang    akan    dilakukan

penagihan oleh kasir.

 

4.

 

Apotek

1.      Pendataan   keluar    masuk    obat   sulit    untuk dilakukan.

2.      Jumlah aset obat sulit untuk diketahui

 

 

5.

 

 

Kasir

1.      Proses    input   tagihan    pasien    membutuhkan waktu yang lama.

2.      Proses      pelaporan      harian      dan     perbulan

membutuhkan waktu yang lama.

6.

Manajemen

Keuangan

Administrasi dan pelaporan harian dan bulanan

tidak efisien.

7.

Manajemen

Kepegawaian

Pendataan jadwal dokter dan tenaga medis

belum dapat diketahui.



Solusi Bisnis Terhadap Permasalahan Organisasi

No.

Permasalahan

Sasaran Perbaikan

1.

Pendaftaran pasien butuh waktu

lama.

Memanfaatkan sistem informasi dan

database pasien.

2.

Belum    ada    pemanggilan     dan

viewer antrian.

Penyediaan sistem informasi antrian.

3.

Data      pasien       masih       harus

diantarakan oleh perawat ke poli.

Penggunaan sistem paperless dari

pendaftaran ke tiap-tiap poli.

 

 

4.

Proses penyampaian resep masih menggunakan kertas dan diantarkan oleh perawat ke

apotek.

 

Penggunaan sistem paperless dari poli ke apotek.

 

5.

 

Rekam medis belum terdata ke

database.

Pemanfaatan       sistem       informasi pendataan rekam medis.

6.

Penghitungan jasa dokter belum

efisien.

Penghitungan     jasa     dokter     yang

terhubung ke sistem pendaftaran.

7.

Pendataan keluar masuk obat sulit

untuk dilakukan.

Pemanfaatan sistem apotek dengan

maksimal.

 

8.

Jumlah    aset    obat   sulit               untuk diketahui.

Penghitungan jumlah aset obat dapat diketahui melalui sistem apotek.

 

9.

Menumpuknya data yang akan dilakukan penagihan oleh kasir.

Integration data antar bagian yang akan dilakukan penagihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Usulan Perbaikan

  Arsitektur bisnis pendaftaran Proses pendaftaran yang diusulkan bagi pasien yang belum terdaftar kedalam sistem adalah pasien d...